Menyulap Limbah Menjadi Berkah
Kamis 31 Agustus 2017

Glonggong - Glonggong merupakan salah satu desa di Kecamatan Nogosari yang memiliki banyak potensi. Bukan hanya di bidang pertanian dan peternakan, industri kerajinan pun mendongkrak perekonomian masyarakat.

Salah satu industri kerajinan yang berkembang pesat adalah usaha pembuatan tempat atau wadah bandeng dari limbah pengolahan kayu. Salah satu satu pengrajin wadah bandeng, Sulastri, warga Widoro RT 001/ RW 003 mengaku telah memulai usaha itu sejak lama.

Awalnya, Sulastri hanya berjualan kotak mainan anak perempuan dan minuman bersama suaminya yang menjajakan pigura di pasar malam. Penghasilan yang dirasa kurang cukup untuk  memenuhi kebutuhan keluarga dan biaya sekolah anak.

Sulastri mendapatkan ide untuk membuat wadah bandeng dari seseorang penjual ikan di Pasar Tebu, Sragen. Sulastri melihat besek atau kotak Bandeng lalu berpikir suatu saat akan mencoba membuatnya karena dirasa dapat bermanfaat bagi keluarganya.

Bermodalkan kayu seadanya dan menyewa peralatan seperti kompresor, tembakkan, dan paku, Sulastri mencoba membuat kotak bandeng. Kerja kerasnya pun membuahkan hasil. Setelah bertahun-tahun menekuni usahanya, Ia mampu mengembangkan usahanya dan mempunyai cabang di Ampel, Salatiga, dan Sruwen.

Banyak pengusaha yang memesan kotak Bandeng Sulastri. Bahkan, setiap pesanan dapat mencapai 5000 kotak yang harus dibuatnya dalam tiga hari. Sulastri tidak bekerja sendirian. Untuk mempercepat pemenuhan pesanan, Sulastri bekerjasama dengan cabang di Ampel. Cabang Ampel membuat sebagian kotak bandeng sehingga seluruh pesanan dapat dipenuhi dalam tiga hari.

Harga wadah bandeng yang ditawarkan beragam, mulai dari Rp 500, Rp 700, hingga Rp 1000 sesuai dengan ukuran kotak. Jenis kayu yang digunakan adalah Sengon Lawit yang dalam pengerjaannya mudah dan tidak bau ketika dicampurkan dengan bandeng. Kayu sengon lawit yang digunakan pun memanfaatkan limbah pabrik pengolahan kayu.

Para pengusaha wadah bandeng harus menghadapi kendala kekurangan pasokan bahan baku saat pabrik libur. Pasalnya, kayu limbah pabrik memiliki kualitas terbaik untuk membuat wadah bandeng karena telah diolah atau dioven.

Untuk mengatasi kekurangan pasokan bahan baku, Sulastri bisa membeli kayu dan diolah sendiri. Hasilnya tidak maksimal seperti saat memakai limbah kayu pabrik.

Pelanggan usaha wadah bandeng Sulastri kini tidak hanya dari  daerah Boyolali. Banyak juga pelanggan yang berasal dari luar Boyolali, seperti Solo, Sukoharjo, Kartosurodan sebagainya. “Harapan kami kedepannya,usaha ini bisa lebih berkembang. Kami bersyukur dengan usaha ini karena bisa membiayai sekolah anak-anak,” ungkap Ibu dengan empat orang anak ini.

Anda berminat memesan wadah bandeng dari Desa Glonggong? Sulastri bisa dihubungi di nomor telepon 085328999528.

Berita Terkini
Kartu Tani Sejahterakan Petani
Kamis 31 Agustus 2017
Warga Merancang Pembangunan Desa
Kamis 31 Agustus 2017
Lelang Bengkok untuk Kas Desa
Kamis 31 Agustus 2017